Garbi Bandung Selenggarakan Forum Diskusi angkat Tema “Gajah Mada : Sistem Politik dan Kepemimpinan”

Forum Diskusi Garbi Bandung dalam kesemptan ini, 9 Februari 2020 bertempat d Kafe ngopi sepanjang hari menghadirkan kegiatan bedah Buku yang berjudul "Gajah Mada; Kepimpinan dan Sistem politik" bedah buku ini di ulas langsung oleh penulisnya sendiri yaitu Enung Nurhayati, MA., Ph.D dengan moderator Gery alumni Sosial Politik UGM yang juga ketua Bidang kajian dan riset INDEKS Garbi Bandung. 

Menurut pemaparan pemateri Gajah Mada merupakan tokoh utama dari Kerajaan Majapahit. Perjalanan karir  militernya di rintisnya sejak dari Prajurit biasa sampai diangkat menjadi Mahapatih di era Hayam Wuruk.

Sistem politik yang dibangun oleh Gajah Mada bersifat top down yang sentralistik. Dengan kekuasaan dan kepemimpinannya Gajah Mada ingin menaklukan nusantara dalam satu imperium besar kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapa.

Terdapat banyak perspektif dalam mengkaji sumpah Palapa tersebut mulai dari perspektif sejarah, sastra, dan politik. Dalam buku yang d bahas, kajiannya lebih banyak mengambil perspektif sejarah dan politik. 

Dalam perspektif sejarah sendiri masih banyak perdebatan di kalangan sejarawan, karena perbedaan latarbelakang dari penulis sejarah itu sendiri. Begitu juga dari dalam perspektif politik. 

Terkait dengan konsep nusantara yang di bangun Gajah Mada dapat diartikan sebagai penyatuan atau bisa diartikan sebagai ekspansi kekuasaan Majapahit.

Tentunya menurut Enung Bahwa ketika memahami sebuah peristiwa dan tokoh sejarah maka kita kita akan lepas dari kajian konteks sosiologi dan budayanya. Karena itu misalnya kenapa Dyah Pitaloka yang mendatangi Hayam Wuruk, bukan nya laki-laki yang mendatangi perempuan karena konteks budaya pada jaman itu kebiasaan itulah yang berlaku. 

Klimaknya Gajah Mada terjadi pada saat Perang Bubat antara kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Sunda. Hal ini menjadi dendam sejarah antara suku Sunda dan suku Jawa selama beberapa abad.

Mementum perang Bubat ini di ambil Raja Hayam Wuruk untuk tidak lagi terlalu menggantungkan diri pada Gajah Mada dalam mengambil keputusan sulit di pemerintahan. Dia mulai langsung terlibat di dalam berbagai pengambilan keputusan dan mengurangi dominasi Gajah Mada.

Diskusi semakin menarik karena salah satu audiens menyampikan kritik nya terhadap buku Gajah Mada yang sedang dibahas. Pertama, Konsep Nusantara Gajah Mada ini seringkali di jadikan dalil bahwa bangsa indonesia dulu bernah bersatu dalam naungan nusantara. Padahal dalam sejarahnya Nusantara pada Gajah Mada berbeda dengan Nusantara yang kita hadapi sekarang. Kedua, Pertemuan antar Gubernur Jabar Aher, Gubernur Jatim Soekarwo dan Wakil Gubernur DI Yogyakarta Arya Adipati dalam meresmikan Jalan Majapahit, Jalan Hayam Wuruk, dan Jalan Citra Resmi di Kota Bandung sebagai rekonsiliasi Jawa-Sunda sebenarnya mengalami kegagalan karena tokoh sentral Gajah Mada itu sendiri di Bandung tidak di angkat sebagai nama jalan.

Kegiatan ini kemudian di tutup oleh sabutan akhir acara oleh Naufal yang juga  diamanahi sebagai Seketaris Garbi Bandung. Naufal menyampaikan bahwa kegiatan Forum diskusi Garbi bandung dalam bentuk bedah buku ini  sebagai salah satu bagaian dari issu tema Garbi Bandung yaitu gerakan Literasi yang insyaAllah akan di rutinkan penyelenggaraannnya dengan berbagai topik yang berbeda.

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.