Antara Ilmu Dan Hikmah Dalam Tsawabit wal Mutaghayyirat

Seluruh Jama'ah bukan penemu Islam dan tak seharusnya berusaha agar seluruh muslim harus bergabung ke dalam jamaahnya.


GarbiBDG - Islam memiliki aspek tsawabit (tetap) dan aspek mutaghayyirat (berubah). Umumnya aspek yg tsawabit (tetap) dalam lingkup aqidah, sedang syariat dan akhlak dominan pada aspek mutaghayyirat (berubah). Membentuk sebuah jama'ah atau kelompok merupakan bagian dari aspek mutaghayyirat. Tentunya sangat relevan menyentuh wilayah ijtihad. Setiap Harakah, jama'ah atau Ormas pasti juga memiliki kedua aspek penting tersebut. Dan keseluruhannya berkomitmen dengan kedua aspek tersebut sebagaimana yang dilakukan dalam ahlul Sunnah wal jama'ah.

Seluruh Jama'ah atau kelompok bukanlah penemu Islam dengan sendirinya, dan tidaklah seharusnya berkeinginan dan berusaha agar seluruh kaum muslimin harus bergabung ke dalam jamaah atau kelompok mereka saja. Karena suatu jama'ah atau kelompok hanyalah salah satu dari sekian banyak jamaa'ah - jama'ah milik kaum muslimin. Berdasarkan ini, maka barangsiapa yang tidak bergabung dengan jama'ah mereka, atau keluar dari jama'ah mereka TIDAK dianggap hilang keislamannya, selagi orang itu tetap berkomitmen terhadap tsawabit Islam.

Kokoh dalam menjaga tsawabit dalam Islam akan menjaga masyarakat muslim dari berbagai ujian kehancuran. Telah dibuktikan dalam sejarah Islam. Kaum Muslimin mampu melewati berbagai macam perselisihan politik, perbedaan pemahaman dan praktek bermazhab karena keteguhan mereka terhadap tsawabit Islam.

Sesungguhnya tsawabit dalam Islam telah dijelaskan oleh Allah untuk makhluknya dengan menggunakan dalil yang sering tidak ada ruang bagi ijtihad. Tsawabit tidak berubah disebabkan perubahan waktu, tempat, seseorang atau lingkungan.

Tsawabit adalah hal-hal prinsip yang mesti ada dan tidak boleh berubah atau berganti di sepanjang waktu dan di tempat manapun. Tsawabit merupakan frame (bingkai) yang mengendalikan perilaku mereka. Dia juga timbangan akurat yang tidak pernah keliru, sehingga dengan tsawabit ini mereka dibedakan dari orang lain. Oleh karena itu, tsawabit bukanlah tempat untuk tawar-menawar. Tsawabit merupakan penentu dan pembeda bagi perilaku dan ideologi sehingga para pengikutnya dapat mengenali dan membedakan agama dari yang lain.

Mutaghayyirat adalah penggunaan akal, pikiran, renungan dan ijtihad dalam bingkai Tsawabit. Mutaghayyirat itu bersifat zhanniyat (asumtif).

Seperti itulah perbedaan fiqih muncul, berawal dari sebuah ijtihad terhadap sesuatu perkara yang bersifat mutaghayyirat dan itu tidak menjadi masalah dan tidak menimbulkan keburukan. Imam Ahmad berkata : "Perbedaan itu merupakan keluasan". Maka seseorang tidak akan menjadi lebih tercela dibandingkan dengan orang lain selama mereka masih berpegang teguh pada tsawabit sebagai penentu.

Pelajarannya adalah, bahwa seluruh jama'ah atau kelompok dakwah yang berafiliasi kepada ahli Sunnah wal jama'ah haruslah bertemu dan mengikat diri dalam tsawabit Islam. Tsawabit harus dijadikan rujukan bersama. Meskipun diakui bahwa setiap Jamaa'ah memiliki tsawabit internal masing-masing yang saling berbeda, namun seluruh jama'ah bertemu di bawah Tsawabit Islam yang menghimpun seluruhnya. Agar dakwah tidak beku, kaku dan statis, serta tidak kehilangan kelayakannya di setiap zaman atau tempat, maka setiap Jamaa'ah juga memiliki perkara - perkara mutaghayyirat.

Demikianlah sebenarnya yang mesti dipahami oleh seluruh anggota jama'ah apapun dalam menyikapi timbulnya perbedaan pendapat dan pandangan orang lain atau jama'ah lain selama masih dalam kerangka tsawabit Islam.

Adapun jika didapati seseorang telah keluar dari tsawabit jama'ahnya, maka tidaklah dengan serta merta menyebabkan seseorang tersebut keluar dari Islam. Mari kita sikapi hal mendasar ini dengan menggali lebih dalam lagi khazanah keilmuan. Berikutnya ilmu yang disempurnakan oleh hikmah akan melahirkan sosok bijaksana.

Imam Ibnu Mubarak pernah berkata :

تعلمنا الأدب ثلاثين عاماً، وتعلمنا العلم عشرين

"Kami mempelajari masalah adab itu selama 30 tahun sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun".

Ilmu itu sungguh penting, namun adab dan hikmahlah penentu dan penjaga ilmu. Dengan Berilmu dan berhikmah akan mudah dan luwes mempraktekkan nilai agama. Memahami tsawabit dan mutaghayyirat dengan kedalaman ilmu. Kemudian mengaplikasikan tsawabit dan mutaghayyirat adab serta hikmah.

Susoh, 5 Februari 2019

Penulis: Roni Haldi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.