Achmad Zaky dan Kegelisahan Garbi

Achmad Zaky bukalapak dan kegelisahan Garbi.


"Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kaya gini (2016, in USD) 1. US 511B 2. China 451B 3. Jepang 165B 4. Jerman 118B 5. Korea 91B 11. Taiwan 33B 14. Australia 23B 24. Malaysia 10B 25. Singapore 10B 43. Indonesia 2B. Mudah-mudahan presiden baru bisa naikin," tulis Zaky, CEO Bukalapak, di cuitan Twitter (13/2). Cuitan itu kini telah dia hapus.

Lalu, netizen ribut. Bukan meributkan soal kegelisahan Zaky, tapi malah meributkan kata 'Presiden Baru' yang ditulis Zaky. Pendukung Jokowi meradang. Achmad Zaky dianggap menyisipkan agenda dukungan kepada salah sat Capres didalam tuitnya. Marketplace Bukalapak diserang. Gerakan tagar #UninstallBukalapak menggema hampir 50k utas di Twitter. Disuarakan dengan nada emosi.
Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma'ruf bersorak. Mereka bilang inilah bentuk militansi pendukung Jokowi. Selain tagar itu, muncul meme 'Bukalapak' yang diubah menjadi 'LupaBapak'. Secara Jokowi memang dianggap mendukung tumbuhnya Bukalapak. Termasuk hadir di ulang tahun BukaLapak pada 10 Januari 2019. Dalam ultah tersebut, nampak sekali harapan Jokowi akan kehadiran marketplace seperti Bukalapak.

Jokowi katakan; "Perusahaan ini dibangun dan dijalankan oleh orang-orang muda kreatif dan inovatif yang dipimpin Achmad Zaky. Tidak heran jika portal belanja online ini begitu cepat melejit. Saya berharap banyak kepada anak-anak muda seperti Achmad Zaky dan kawan-kawan untuk tidak sekadar mengeksploitasi pertumbuhan ekonomi digital, tapi menebar semangat positif dalam membangun ekonomi di negara kita".

Tak hanya soal tagar di Twitter dan Facebook, kekakuratan data Zaky dikulik. Bahwa Zaky menampilkan data dari enam tahun lalu. Lalu, masa lalu Zaky dicari, kelemahan Bukalapak dibedah. Seperti luapan emosi yang ingin dihabiskan sekali waktu. Lupa pada substansi. Puluhan bahkan ratusan orang dengan riang memamerkan gambar bahwa ia baru saja mencopot aplikasi Bukalapak dari gawainya.

Untung, masih banyak orang yang khawatir dan peduli dengan masa depan perkembangan e-commerce dalam negeri. Khawatir dengan nasib empat juta UMKM yang menggunakan Bukalapak sebagai tempat jualan ya. Karena tagar itu dianggap childish, emosional dan tak menunjukkan keberpihakan pada pedagang kecil, maka kemudian seruan itu berbuah pahit.

Tagar itu dibalas dengan tagar #UninstallJokowi dan #ShutdownJokowi. Menjadi trending topic dunia dengan lebih dari 500k utas dan impact ke media sosial lain seperti Facebook dan Instagram dengan potensi diatas 400M jangkauan. Lalu terjadilah drama singkat, Zacky dipanggil/datang ke Istana, Zacky minta maaf lewat akunnya dan minta maaf juga ke Presiden dan Jokowi menyerukan agar semua orang jangan kampanye #UninstallBukalapak.

Masa Depan Inovasi
Sesungguhnya, kegelisahan Zaky adalah kegelisahan tentang masa depan. Keakuratan data 'research and development' yang digelontorkan pemerintahan hari ini tidaklah relevan. Angka R&D yang disebut Zacky yang merupakan data enam tahun lalu tak jauh berbeda dengan angka yang disebut oleh Presiden Jokowi kemarin; 26 Triliun.

Inovasi sebagai buah dari penelitian dan pengembangan teknologi jadi acuan. Menurut The Global Innovation Index tahun 2018, Indonesia berada di peringkat 85 dari 126 negara. Jauh tertinggal dengan negara Asia sekitar. Padahal, kunci berkembang dan subur ya ekonomi berbasis digital, adalah inovasi yang tulang punggungnya adalah penelitian dan pengembangan.
Sebenarnya Zaky tak sekedar bicara menumpahkan rasa gelisah ketika melihat kenyataan di negeri kita. Dia tak sekedar emosi lalu hanya berteriak di media sosial.

Sejak tiga tahun lalu, Bukalapak telah mulai memikirkan agar bagaimana inovasi ekonomi digital itu tumbuh. Lewat Bukalapak Programming Contest yang digelar sejak Februari 2016, Zaky dan kawan-kawannya mendorong tumbuhnya bakat rekayasa dan potensi lapangan kerja dibidang IT. Kompetisi ini diharapan mampu meningkatkan minat pelajar di Indonesia untuk belajar IT dan tetap meningkatkan kemampuan agar memiliki daya saing.

Selain itu, ada solidaritas yang dibangun oleh Zaky kepada pelaku bisnis digital dan bisnis kreatif yang sedang berusaha tumbuh. Setiap tiga pekan sekali atau sebulan sekali, Bukalapak mengadakan forum Bukatalks; semacam sharing dengan melibatkan para ahli untuk memotivasi mereka yang hadir agar bisa mengejar dan sukses seperti Bukalapak. Ini sumbangsih nyata. Tak sekedar bicara.
Saya ingin bercerita tentang dua peristiwa yang menjadi pelajaran kita semua; Jack Ma dan Huawei.
Tahun 1995, saat baru pulang dari Seattle, Jack Ma memilih menetap di Hangzhou. Di sana, Jack Ma mulai berpikir membangun bisnis berbasis internet. Lalu dibuatlah perusahaan yang ia beri nama Hangzhou Haibo Netwotk Consulting. Perusahaan ini adalah salah satu perusahaan berbasis Internet pertama di China. Mereka kemudian memikirkan jenis layanan apa yang akan dijual.

Maka beberapa bulan kemudian, lahirlah ide 'China Pages', sebuah laman tempat setiap pelaku bisnis di China bisa dihubungi dari luar dan dalam negeri. Tanggal 10 Mei 1995, Jack Ma dan He Yibing, partnernya, mendaftarkan China Pages, dan mengajak orang-orang untuk mendaftarkan usahanya di laman mereka. Tapi Jack Ma mengalami kesulitan. Karena China belum terkoneksi dengan internet. Maka apa yang kemudian dilakukan Jack Ma? Dia datangi satu-satu pelaku usaha dan menjelaskan apa itu internet, online dan sebagainya.

Tak hanya itu, Jack Ma juga mendatangi pemerintah Hangzhou dan merayu agar mereka membuat laman pemerintah. Walaupun pemerintah saat itu tak paham, tapi Jack Ma tetap membuatkan laman khusus dengan hosting dari China Pages. Sambutan para mitra pemerintah Hangzhou luar biasa. Lalu gagasan itu menular. Internet dalam waktu tak lama menjadi bagian hidup dari masyarakat China.
Dan bukan hanya Jack Ma yang menikmatinya. Tak lama, di tahun-tahun yang sama, tumbuhlah beberapa pelaku bisnis berbasis Internet. Itulah ekosistem atau lingkungan. Yang hanya bisa tumbuh ketika kita paksa tumbuh dengan inovasi.

Ada satu kalimat yang diucapkan Jack Ma di banyak kesempatan pada tahun-tahun itu; "Internet akan mengubah sisi kehidupan manusia". Dan ada satu lagi kalimat yang diucapkan oleh Jack Ma ketika Alibaba mulai menggeliat; "jika industri biasa dan e-commerce bersatu, maka babak baru perkembangan ekonomi China tak akan terbendung".

Cerita kedua, pekan keempat Oktober 2018. Saat saya membersamai Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah berkunjung ke kantor pusat Huawei di Wuhe Avenue, kota Shenzen China. Kami disambut Vice President Global Public Affairs Huawei, Detlef Eckert, PhD dan Direktur Komunikasi Perusahaan, Selina Wen Han. Dalam tour singkat ke dalam markas Huawei itu, ada satu kalimat yang disampaikan oleh Detlef didepan kami;

"Huawei mengklaim, bahwa saat ini, perusahaan telekomunikasi tersebut merupakan perusahaan telekomunikasi terbesar ketiga di dunia setelah Apple dan Samsung. Produk dan layanan perusahaan Huawei kini sudah menjangkau lebih dari 140 negara. Kantor Huawei, selain di Shenzen, juga sudah tersebar di banyak tempat di China, Eropa, Amerika, Rusia dan Asia. Jumlah pegawai Huawei ratusan ribu, dan 40% dari jumlah itu, masuk dalam tim riset dan pengembangan produknya".
Maka wajar kemudian, kalau capaian inovasi teknologi China, terutama dalam teknologi informasi dan komunikasi dan juga dalam ekonomi digitalnya jadi juara di dunia. Karena mereka serius mengalokasikan sumberdayanya untuk riset dan pengembangan. Perusahaan seperti Huawei bahkan mengalokasikan hampir setengahnya. Mereka sudah sadar sejak lama.

Kegelisahan GARBI
Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI), ormas yang digagas Fahri Hamzah dan Anis Matta, jauh-jauh hari sudah mengirimkan sinyal kegelisahan yang sama; bahwa kemajuan Indonesia di kancah dunia, termasuk kemajuan ekonomi hanya bisa dicapai ketika ada inovasi dan keunggulan teknologi. Dan keunggulan teknologi hanya bisa dicapai kalau pemerintah serius menyediakan regulasi, sarana dan prasarana; pendidikan, anggaran, jaringan, penciptaan lingkungan dan sebagainya.

Menebar semangat positif dalam membangun ekonomi digital di negara kita harusnya tidak hanya dilakukan oleh seorang Zaky. Suara Zaky di twitter adalah suara kegelisahan dari satu generasi yang sama seperti generasi para penggerak GARBI. Ormas yang menampung puluhan ribu millenial seperti GARBI ini, memiliki tanggungjawab, agar anak-anak muda optimis melihat masa depannya.
Gerakan Arah Baru Indonesia (GARBI) tidak boleh melulu bicara politik saja. Tapi dia juga bertugas menjadi konsolidator ide kreatif anak-anak muda dalam mengembangkan dunia ekonomi, termasuk ekonomi kreatif dan berbasis digital. GARBI juga memiliki tanggungjawab untuk merumuskan strategi apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah, sehingga tercipta ekosistem yang memunculkan pelaku usaha muda yang bisa menjadi penopang ekonomi negara kita. Pijakannya dimulai dibangun dan disusun mulai dari sekarang.
Tabik.

16-17 Februari 2019
Bambang Prayitno

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.