Rocky Gerung, Islamis dan Filsafat

rocky gerung dan filsafat umat islam


GarbiBDG -  Filsafat adalah kajian masalah umum dan mendasar tentang persoalan seperti eksistensi, pengetahuan, nilai, akal, pikiran, dan bahasa, Istilah ini pertama kali diungkapkan oleh Pythagoras. Lalu Metode yang digunakan dalam filsafat antara lain mengajukan pertanyaan, diskusi kritikal, dialektika, dan presentasi sistematik.

Dewasa ini nama Rocky Gerung sangat tersohor bahkan dia juga begitu tersohor dikalangan Islamis dan bahkan menjadi idola, diundang dimana-mana bahkan sampai berbicara di Mesjid juga di forum kader-kader gerakan Islam. Saya pikir ini bukan karena pemikirannya, tapi karena posisi politik dia yang memang konsisten mengkritik Kekuasaan yang kebetulan saat ini Rocky mengkritik penguasa yang menjadi lawan kalangan Islamis, tapi Rocky juga mengatakan jika PS menang, 12 menit setelahnya akan langsung dia kritik. Jadi jika misalkan Aktor Politik pilihan kaum Islamis menjadi musuh Rocky dimasa depan, saya tidak yakin Rocky akan menjadi idola kembali. Lihat saja Anis Baswedan. Di 2014 di obok-obok kaum Islamis tapi saat setelah menjadi Gubenur DKI diagung-agungkan, dan inilah Politik.

Mengesampingkan posisi Politik di masa depan, lebih baik kita membicarakan pemikiran Rocky Gerung dan implentasinya pada kehidupan umat Islam dewasa ini. Rocky adalah seorang ahli Filsafat, dan filsafat indentik dengan akal & pikiran. Ilmu ini sebetulnya cukup dilarang disebagian besar kalangan Islamis, apalagi telah muncul banyak fatwa dari Ulama salafi di Saudi untuk menghindari ilmu Filsafat. Relatif kata Filsafat ini begitu dihindari oleh kalangan Islamis hampir di seluruh dunia. Kebebasan berfikir, berpendapat, dialektika yang tajam, diskusi kritikal dan presentasi sistemik sangat jarang kita dapati dikalangan Islamis. Bahkan di kalangan Islamis modern pun jarang kita jumpai hal yang demikian. Model kalangan Islamis ini cendrung satu Arah, dari atas kebawah. Fenomena ini ada sejak dahulu kala, bahkan Ulama dan Filsuf Islam besar Imam Al-Ghazali mendefinisikan sebagai kaum Fundamentalis "yaitu kaum yang beriman lewat contekan, yang menerima Informasi keliru tanpa verifikasi." Tidak ada verifikasi disini adalah tidak ada metode filsafat tadi, diskusi kritikal dan lain-lain.

Menurut Ravetz tahun 750-1200 an merupakan puncak peradaban Islam. Baghdad menyinari dunia dengan ilmu pengetahuan. Ini dekarenakan Akulturasi kebudayaan yang menghidupkan benih-benih Filsafat. Dampak dari itu adalah: banyak diterjemahkan Literatur-Literatur ilmu pengetahuan dari Yunani, Persia dan Romawi ke dalam bahasa Arab dan ini menstimulus juga memberikan dampak besar terhadap munculnya kajian filsafat Islam klasik. Peristiwa itu lalu menjadikan periode ini sebagai periode keemasan Islam dengan melahirkan banyaknya Filsuf Islam seperti Ibnu Rusyd, Ibnu Sina, Alfarabi dan banyak lagi.

Sebetulnya penyerapan ilmu pengetahuan dari Romawi dan Persia telah dilakukan sejak zaman Umar bin Khattab memimpin. Umar menerapkan sistem administrasi ala Persia dan sistem manajemen militer ala Romawi di masa pemerintahannya. Tapi dimasa Abbasiyah ilmu pengetahuan lebih berkembang karena begitu banyaknya bahan bacaan dari peradaban-peradaban besar sebelumnya yang telah diterjemahkan . Setelah tahun 1200-an, ilmu filsafat Islam mulai meredup apalagi setelah Baghdad dihancurkan oleh tentara Mongol. Di masa modern, ilmu ini mulai sedikit menggeliat terutama setelah pergerakan Al-Nahda (Renaissance dalam bahasa Arab). Banyak orang yang terinspirasi salah satunya adalah Alafghani, Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha. Pendiri gerakan ikhwanul Muslimin, Hasan Al-Banna juga sedikit banyak terinspirasi dari tokoh-tokoh filsafat Islam paska runtuhnya kekhalifahan Ustmani. Karena Hasan Al-Banna bekerja di sebuah Majalah bersama tokoh-tokoh ini. Kritikan fundamental mereka terkait tentang Taqlid buta, Dialektika dan Rasionalitas.

Tapi setelah itu, Filsafat ini mulai meredup kembali. Orang yang berfilsafat sedikit melawan arus kultur kalangan Islamis justru di musuhi. Dialektika, Diskusi Kritikal dan lainnya menghilang kembali hingga saat ini dikalangan Islamis, tapi sedikit demi sedikit telah bangkit kultur filsafat ini dikalangan Islamis modern dengan tokoh sentralnya. Buya Hamka, Erdogan, Ghannochi, Abdullah Gul, Tariq Ramadan, Yusuf Qaradhawy hingga Anis Matta. Pemikiran mereka kritis dan rasional ala filsuf. Mendobrak sekat-sekat metode pengetahuan kaum islamis yang kaku.

Kembali kepada Rocky Gerung. Baik sekali jika kalangan Islamis dewasa ini menggunakan metode filsafat dalam kesehariannya juga dalam Organisasinya. Berpikir kritis, terukur, dialektika dan lain sebagainya. Dan hal ini tentu saja akan menumbuhkan akal sehat seperti kata Rocky Gerung. Memang ada banyak sekali pendapat Rocky yang tidak sejalan dan jauh dari Islam, tapi metode berpikirnya haruslah diterapkan jika ingin kembali meraih kejayaan, terutama bagi kalangan Islamis. Metode berpikir inilah yang akan menjadikan tulang punggung dalan menjemput Arah Baru Indonesia.


Penulis: Dzaif Taufik

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.